Menopause Itu Nyata: Mengapa Wanita Diberhentikan Oleh Sistem Medis

6

Bagi jutaan wanita, transisi melewati perimenopause dan menopause bukan sekadar perubahan biologis; ini sering kali merupakan perjuangan melawan skeptisisme medis dan pemecatan langsung. Meskipun perbincangan seputar perubahan hormonal sedang berkembang, banyak penyedia layanan kesehatan masih gagal mengenali atau mengatasi konsekuensi serius terhadap kesehatan fisik dan mental. Ini bukan sekedar masalah ketidaknyamanan; ini adalah kegagalan sistemik yang membuat perempuan merasa tidak didengarkan dan ditinggalkan.

Realitas Penurunan Hormon

Menopause, didefinisikan sebagai 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi, mempengaruhi semua wanita yang sedang menstruasi. Hal ini didorong oleh penurunan estrogen alami, bukan suatu penyakit. Namun, terlalu banyak dokter yang memperlakukannya seolah-olah itu hanya khayalan atau sesuatu yang seharusnya “ditangani” oleh wanita. Gejalanya sangat luas: rasa panas, gangguan tidur, rambut rontok, masalah pencernaan, dan gangguan kognitif yang signifikan (kabut otak) sering terjadi.

Masalahnya bukan hanya pada gejalanya saja, tapi sering kali disalahartikan sebagai stres, kecemasan, atau bahkan hipokondria. Gaslighting ini membuat perempuan mempertanyakan kewarasan mereka sendiri. Seorang wanita, Vanessa McGrady, ingat pernah dipecat dengan dingin oleh dokternya setelah menjelaskan secara rinci gejala-gejala yang dialaminya, namun kemudian diminta untuk mencoba pengobatan herbal meskipun penelitian menunjukkan bahwa terapi hormonal benar-benar memberikan kesembuhan.

Mengapa Komunitas Medis Gagal pada Wanita

Akar masalahnya adalah kurangnya pendidikan dan bias sistemik. Sebuah survei pada tahun 2019 menemukan bahwa hanya 7% dokter baru di bidang kedokteran keluarga dan ginekologi yang merasa sepenuhnya siap menangani menopause. Dua puluh persen mengaku tidak menerima pelatihan formal mengenai subjek tersebut.

Ini berarti kerugian yang nyata. Wanita yang mengalami depresi, kecemasan, atau kabut otak selama menopause sering kali hanya diberi label “stres” alih-alih dievaluasi karena ketidakseimbangan hormon. Sistem medis mengabaikan hubungan yang jelas antara fluktuasi hormon dan kesehatan mental, meskipun penelitian mengkonfirmasi hubungan ini.

Ilmunya Jelas

Dampak perubahan hormon terhadap kesejahteraan mental telah dibuktikan secara ilmiah. Fluktuasi estrogen dapat mengganggu neurotransmiter seperti serotonin dan GABA, meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

Kabut otak, yang ditandai dengan gangguan memori kerja dan fungsi kognitif, juga merupakan gejala yang terdokumentasi dengan baik. Sebuah studi tahun 2023 di Maturitas menunjukkan bahwa wanita dalam masa perimenopause atau menopause akibat pembedahan melaporkan defisit fungsi eksekutif yang signifikan dibandingkan dengan wanita pramenopause. Ini bukan hanya soal rasa lelah; ini adalah penurunan kognitif yang terukur.

Apa yang Wanita Lakukan Tentang Hal Ini

Dihadapkan pada ketidakpedulian medis, banyak perempuan beralih ke pembelaan diri dan dukungan teman sebaya. Amanda Thebe, seorang pelatih kebugaran, memulai grup Facebook “Menopausing So Hard” (sekarang memiliki lebih dari 25.000 anggota) setelah gejalanya sendiri diabaikan oleh dokter. Kelompok ini memberikan ruang bagi perempuan untuk berbagi pengalaman dan menemukan validasi ketika sistem medis mengecewakan mereka.

Pengobatan Ada, Tapi Aksesnya Tidak Merata

Perawatan yang efektif, termasuk terapi hormon (HRT), antidepresan, dan terapi perilaku kognitif, tersedia. Masyarakat Menopause Amerika Utara merekomendasikan HRT bagi perempuan yang memenuhi syarat, namun aksesnya masih belum merata. Beberapa obat, seperti fezolinetant (Veozah), disertai peringatan FDA tentang potensi cedera hati, sehingga semakin memperumit keputusan pengobatan.

Intinya

Menopause adalah proses biologis alami yang memiliki implikasi besar terhadap kesehatan fisik dan mental. Perempuan berhak mendapat perhatian serius dari para profesional kesehatan. Sistem yang berlaku saat ini sering kali mengecewakan mereka, membuat mereka merasa diabaikan, terisolasi, dan menderita secara sia-sia. Sudah waktunya bagi pendidikan kedokteran untuk memahami realita perubahan hormonal dan bagi dokter untuk memprioritaskan kesehatan perempuan pada tahap kehidupan yang kritis ini.